Puncak Acara Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2024 yang digelar pada Selasa, 10 Desember 2024, di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Acara ini diikuti oleh Pemerintah Daerah se-Daerah Istimewa Yogyakarta, Lembaga Swadaya Masyarakat, akademisi, dunia usaha, serta media massa.
Dengan mengusung tema “Menjaga Masa Depan: Wujudkan Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan”, acara ini bertujuan untuk meningkatkan perlindungan terhadap perempuan dan anak agar terbebas dari kekerasan, sekaligus mendukung masa depan yang lebih gemilang. Tema tersebut juga menggarisbawahi pentingnya menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan aman bagi perempuan dan anak di DIY.
Perayaan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dimulai sejak 25 November hingga 10 Desember 2024. Berbagai kegiatan digelar, termasuk pembangunan rumah aman, peningkatan layanan perlindungan yang efektif dan efisien, hingga penjaminan kesehatan melalui Bapel Jamkesos. Dalam puncak acara, juga dilakukan penyerahan penghargaan untuk pemenang lomba video yang bertema sejalan dengan kampanye ini.
Co-founder Aliansi Laki-Laki Baru dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran masyarakat untuk turut aktif melawan kekerasan. Ia menyoroti bahwa kekerasan sering kali dilakukan oleh orang terdekat, umumnya laki-laki, yang gagal merefleksikan emosinya dengan baik. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya pendampingan bagi para pelaku untuk mencegah mereka mengulangi tindak kekerasan setelah menjalani hukuman.
Rifka Annisa, salah satu pusat layanan krisis perempuan yang telah berdiri sejak 2007, juga menyoroti pentingnya mengangkat korban ke lembaga layanan dan mengedukasi masyarakat untuk lebih peka terhadap isu kekerasan. Data menunjukkan bahwa meski upaya pencegahan terus dilakukan, tantangan untuk menciptakan masyarakat yang bebas dari kekerasan masih sangat besar.
Acara ini menjadi pengingat bahwa kekerasan bukanlah solusi, melainkan masalah yang harus diberantas. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat di DIY diharapkan terus berkontribusi aktif dalam menciptakan Jogja Istimewa tanpa kekerasan, demi masa depan yang lebih baik bagi perempuan dan anak.