Bincang Pagi di Nayottama: Sinergi Stakeholders dan PKMK UGM Explorasi Strategi Peningkatan Kesehatan Remaja
Wonosari – Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dengan tema Ketahanan Pangan, Gizi dan Kesehatan Mental Remaja.
Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin, 19 Februari 2024 bertempat di Ruang Nayottama, Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul.
Ketua peneliti, Muhammad Asrullah, Ph.D, dalam sambutannya mengatakan bahwa FGD dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh informasi terkini mengenai kebijakan dan pelaksanaan program gizi serta kesehatan jiwa remaja di Kabupaten Gunungkidul.
Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, FGD memungkinkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang tantangan, kebutuhan, dan peluang yang ada dalam meningkatkan gizi dan kesehatan jiwa remaja.
Hasil dari FGD dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan atau mengevaluasi kebijakan dan program yang lebih tepat sasaran dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan remaja secara holistik di Kabupaten Gunungkidul.
Kegiatan FGD ini, dihadiri oleh berbagai pihak terkait, yaitu Sekretariat Daerah (Setda) Gunungkidul yang terdiri dr. Dewi Irawati, M.Kes, selaku Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Drs. Witanto (Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat), Noor Faizah, SKM, MPH (Analis Kebijakan Ahli Muda
Kesehatan dan Pemberdayaan Perempuan Bagian Kesra Setda Kabupaten Gunungkidul), dan Suyono, SE (Analis Kebijakan ahli muda bidang kesejahteraan sosial dan pemberdayaan masyarakat).
Sementara dari BAPPEDA diwakili oleh Sity Hidayati, SKM, MM (Sub Koordinator Kesehatan dan Sosial). Dari Dinas Kesehatan diwakili dr. Diah Prasetyorini, M.Sc (Kepala Bidang Kesmas), dr. Trianawati, MPH (seksi yang mengelola Program Kesehatan Keluarga), Agung Wicaksono, Amd.Gz (Nutrisionis, Pengelola Program Gizi), dan Annisa Aulia Nurohmah, SKM (Pengelola Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat).
Dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) turut hadir Dewonggo Mursito, S.Psi (pengelola Perlindungan Anak). Dari Dinas Pendidikan diwakili oleh Erik Mudika Putra (pengelola Pembinaan SMP). Kanwil Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul diwakili oleh Fajar Hudaya, A.Md (pengelola Pembinaan Madrasah).
Kegiatan ini dimulai dengan sambutan dari Sekretaris Daerah yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, dilanjutkan dengan pemaparan bentuk penelitian oleh ketua peneliti dari PKMK UGM, Muhammad Asrullah, Ph.D, dan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh salah satu tim peneliti yaitu Nida Adzilah Auliani S.Gz.
Kegiatan ini dilakukan menggunakan teknik “World Café” yang memberikan kesempatan seluruh narasumber untuk berpartisipasi aktif.
Dalam diskusi para stakeholder menyampaikan pandangannya masing-masing mengenai kesehatan remaja. Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda sebagai ketua harian Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (TP UKS/M), mengatakan bahwa Kesehatan remaja di sekolah/madrasah menjadi tanggung jawab empat instansi sesuai surat keputusan bersama 4 menteri tentang UKS/M, yaitu Sekretariat Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Kementerian Agama. Oleh sebab itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program yang mendukung kesehatan remaja.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr. Diah Prasetyorini, M.Sc, mengatakan bahwa kesehatan remaja di Gunungkidul dipantau melalui penjaringan kesehatan yang saat ini sudah menggunakan aplikasi mobile screening (mobscreen).
Selain itu, program kampanye gizi seimbang, aktivitas fisik, dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) dilakukan melalui program aksi bergizi. Aksi bergizi tidak hanya bertujuan untuk mengimplementasikan program Kesehatan, tetapi juga menjadi upaya advokasi untuk melibatkan lintas sektor dalam program kesehatan di sekolah/madrasah.
Seperti yang disampaikan kepala seksi pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular bidang pencegahan dan pengendalian penyakit, Musiyanto, SKM., MPH, bahwa sekolah menyediakan layanan kesehatan mental anak didik agar kasus bullying anak sekolah bisa dihindari, kemudian dilakukan kegiatan screening kesehatan jiwa pada anak sekolah dan peran guru UKS atau bimbingan konseling perlu dilatih keswa anak didik.
Selain itu, untuk menjangkau remaja non-sekolah, posyandu remaja (Posrem) dan pos pembinaan terpadu (Posbindu) dibentuk di tingkat desa/Kalurahan untuk screening penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa.
Sejalan dengan hal ini, Dewonggo Mursito, S. Psi, selaku perwakilan dari Dinsos P3A, menyampaikan bahwa isu bullying dan perkawinan anak menjadi isu penting terkait remaja. Edukasi tentang menunda pernikahan sudah dilakukan di sekolah dan madrasah. Sementara itu, untuk meningkatkan ketahanan keluarga, pada tahun 2025 akan dibentuk Pusat Pembelajaran Keluarga.
Perwakilan BAPPEDA Gunungkidul, Sity Hidayati menyampaikan bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) kabupaten Gunungkidul adalah 71,46 persen. Angka ini sudah cukup tinggi, meskipun masih menjadi yang terendah di Provinsi DIY. Hal ini dipengaruhi oleh rata-rata lama sekolah yang hanya 7,32 tahun. Oleh sebab itu, program yang mendukung peningkatan lama rata-rata lama sekolah dan program kesehatan remaja menjadi hal yang penting.
Bagi Dinas Pendidikan dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, upaya untuk menyediakan lingkungan yang mendukung akses pangan bergizi dilakukan dengan memberikan sosialisasi tentang kantin sehat kepada pengawas sekolah/madrasah. Selain itu, inisiasi berupa program sarapan bersama sudah dilakukan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, namun keberlanjutan program sarapan bersama masih menjadi tantangan tersendiri.
Dalam FGD ini, PKMK UGM berkomitmen untuk mendengarkan berbagai pandangan dan masukan dari seluruh stakeholder guna mengidentifikasi permasalahan kesehatan remaja di wilayah Gunungkidul.
Para peserta FGD secara aktif berbagi pengalaman, ide, dan solusi untuk mengatasi tantangan kesehatan remaja, mulai dari peningkatan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi hingga aksesibilitas pelayanan kesehatan mental. Hasil dari diskusi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk merancang program-program kesehatan yang lebih efektif dan relevan bagi remaja di wilayah tersebut.
Kesehatan remaja adalah aspek penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Dengan melibatkan semua pihak terkait, PKMK UGM berharap dapat merumuskan kebijakan yang lebih komprehensif untuk mendukung kesejahteraan remaja di Gunungkidul.
Setelah diskusi berjalan dengan lancar, kegiatan diakhiri dengan kegiatan foto bersama tim PKMK UGM dengan seluruh stakeholder terkait.